” Bila setiap pidato SBY selalu diinterpretasikan negatif”

” Bila setiap pidato SBY selalu diinterpretasikan negatif”

“Selama tahun 2010 setiap Pidato SBY selalu ada saja komentar salah tentang isi pidatonya. Bahkan dianggap bahasanya yang tidak jelas untuk disampaikan kepada rakyat. Padahal SBY pernah mendapatkan penghargaan sebagai komunikator terbaik di Asia. Tampaknya yang salah adalah media masa atau para pengamat politik yang tidak fair menginterpretasikannya karena kepentingan pribadi atau kelompk tertentu.

Seperti biasanya setiap presiden mengemukakan pidato, statement selalu saja banyak komentar aneh, menarik dan membingungkan bermunculan. Setiap komentar yang dikeluarkan sangat tergantung dari latar belakang dan kepentingan individu atau kelompok yang diperjuangkan. Bila dicermati akan tampak bahwa media masa, media televisi atau pengamat yang menyampaikan hal negatif adalah sosok yang sama atau yang itu-itui saja. Sehingga selalu saja kontroversi itu selalu tidak “klop” karena substansi dan arah yang dipermasalahkan seringkali jauh dari permasalahan. Sehingga pesan moral yang seharusnya dicerna masyarakat jadi tertutupi oleh kepentingan politik pihak tertentu.

Seperti kasus ketika SBY memberi pesan moral tentang etika berdemo dan aturan berdemo. Tetapi pengkritiknya selalu mengatakan tidak perlu mempermasalahkan etika yang penting SBY siap dikritik dengan cara apapun. Segala cara berdemo adalah sah dan tidak melanggar demokrasi, penguasa harus tahan mental bila dikritik. Seharusnya pemerintah mendengarkan keluhan rakyatnya, bukan melihat cara demonya. Sebaliknya pendukung SBYpun mati-matian membela bahwa SBY tidak anti kritik, tetapi yang seharusnya diperhatikan adalah cara dan aturan berdemo.

SBY tidak perlu “terlalu lebay” berkeluh kesah kepada rakyat, juga sering diberitakan oleh opini berbagai media. Tetapi di saat presiden Megawati sebelumnya tidak pernah bicara, juga dicap sebagai “presiden bisu”. Saat presiden tidak mengeluarkan pendapat maka presiden dikira lamban, namun saat pendapat dikeluarkan presiden terlalu lebay.

Di samping itu juga banyak timbul berita bahwa SBY marah dianggap sebagai kerbau. Inilah demokrasi di indonesia, rakyat kadang mudah terombang ambing oleh opini dan berita yang ada di media. Berita dan opini tergantung selera dan kepentingan orang yang memberitakan. Demikian pula pendapat seseorang tergantung kepentingan indvidu dan kelompoknya. Seharusnya rakyat mendapat pembelajaran dari media untuk bedemokrasi dan berpolitik yang baik dan cerdas. Ketika SBY berkomentar tentang kerbau dan demonstrasi, seharusnya makna yang harus digaris bawahi adalah dalam berdemokrasi dan berpolitik harus mengikuti tatakrama budaya dan aturan hukum yang ada. SBY adalah presiden yang memberi arahan dan peringatan kepada rakyatnya. Layaknya seorang bapak yang memberi nasehat kepada anaknya.

Komunikator Terbaik

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memperolah penghargaan Gold Standar Awards untuk kategori Komunikasi Politik pilihan panel praktisi komunikasi korporat dan publik yang tergabung dalam the Public Affairs Asia, di gedung Press Foreign Correspondence Club, Hongkong. Penghargaan diterima oleh Edhie Baskoro Yudhoyono, putera kedua SBY. Edhie menghadiri acara itu didampingi Dino Pati DJalal, Staf Khusus Presiden.

Menurut Mark O Brien, Vice-President Public Affairs Asia Asia Pasifik, SBY dipilih oleh panel yang beranggotakan sembilan juri menyisihkan para finalis lain seperti : Abhisit Vejjajiva, Perdana Menteri Thailand dan Ryan Gawan, dari Save The Children, UK.

Menurut Brien, SBY yang dinominasikan oleh Hans Vriens of Vriens & Partners mampu menyisihkan nominator lain, karena dinilai berhasil mengkomunikasikan berbagai kebijakan dalam dan luar negeri secara efektif, sehingga terpilih kembali sebagai Presiden RI dan kini melanjutkannya pada periode kedua. Catatan panel juga menyebutkan SBY dinilai berhasil menjaga independensi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). SBY juga dinilai berhasil mendorong pemberantasan korupsi pada pemerintahan yang pada saat yang sama menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh lebih dari 4%, memperkuat spirit ASEAN, dan mendorong lingkungan iklim ekonomi dan politik yang kondusif di dalam negeri.

Opini Negatif Menutupi Pesan Penting

Bila nasehat dan permasalahan bangsa diingatkan kepada rakyat sebaiknya media dan beberapa lawan politiknya memaknainya dengan positif dan bijak. Jangan sampai nasehat dari bapak kepada anak langsung si anak bersikap kolokan, khan bapak juga banyak salahnya. Kalau hal ini terjadi maka anak tidak akan mengerti kesalahannya, dan selalu menyalahkan orang tuanya.

Para pengamat, media dan lawan politik SBY, kalau mau mempermasalahkan kebijakan dan mempertentangkan permasalahan kepemimpinan SBY seharusnya dalam konsteks lain. Sehingga substansi yang ada, khususnya etika dan aturan hukum tidak tertutupi oleh permasalahan politik yang ada. Bila ini terus terjadi siapa lagi di bumi Indonesia yang dapat mengajari nilai moral dan aturan hukum di depan rakyatnya. Pemimpin negarapun sudah dilecehkan nasehat dan ajaran moral yang seharusnya dijalankan rakyatnya. Hal ini terjadi mungkin saja, setiap statement dan perilaku positif dari presiden selalu saja dimaknai dengan pikiran politik dan sekedar menjatuhkan. Apalagi saat ini SBY terpuruk oleh kasus besar bangsa yaitu bank Century.

Pendapat negatif media cetak, media televisi dan pengamat politik yang selalu menginterpretasikan negatif bila dicermati adalah pihak tertentu atau yang itu-itu saja. Pihak tertentu itu mengemukakan opininya tergantung dari kepentingan pribadi atau kelompok yang dibelanya. Kalaupun dia tidak mementingkan kelompoik tertentu tetapi subyektifitasnya tampaknya diragukan. Hal itu terbukti dengan berbagai opini mereka tentang pemerintahan dan SBY selalu diambil dari sisi negatif. Berbagai pihak tersebut diantaranya adalah stasiun televisi metrotv, dan media Indonesia yang paling sering memakai nara sumber dari pengamat komunikasi politik Efendi Ghozali dan Cipta Lesmana. Bila punya itikat baik sebenarnya yang dibahas adalkah topik atau masalahnya bukan cara penyampaiannya. Bila cara penyampaian tersebut dibahas maka subyektifitasnya sangat tinggi, hasilnya sangat berbeda tergantung tujuan dalam menginterpretasikannya.

Seharusnya selain pemimpin negara para tokoh agama juga berkewajiban untuk mengemukakan nilai moral tersebut kepada bangsanya. Tetapi sayangnya para ulama yang lebih memurnikan nilai moral dan agama jarang diliput dan menjadi incaran media. Media hanya tertarik kepada ulama yang condong kepada kegiatan politik.

Kalau hal ini terjadi terus menerus kepada siapa lagi bangsa ini belajar nilai positif berbangsa dan bernegara ? Bila aturan dan etika berdemo semakin jauh diabaikan maka bangsa ini akan menunggu kehancurannya dalam eforia berdemonstrasi. Tanda-tanda itu sudah mulai tampak di berbagai daerah. Demonstrasi menuntut polisi, berujung masyarakat dengan brutal dan ganas melempari kantor polisi bahkan membunuhi para tahanan di pos polisi. Sedangkan demo yang tak kalah marak di seluruh negeri adalah demo PLN, para pendemo menyandera pejabat PLN karena listriknya sering mati. Atau yang masih tidak luput dari ingatan kita, ketika para demonstran dengan ganas dan biadab menarik dan memukuli ketua DPRD Sumut, yang akhirnya meninggal karena sakit jantung.

 

Supported By :

BILA AKU PRESIDEN, Yudhasmara Publisher

“Presiden harus menjadi amanah dan tanggung jawab. Presiden Indonesia adalah presiden semua rakyat bukan untuk kelompok. Presiden adalah sebuah cita-cita, semua Anak Indonesia bisa jadi presiden”

“No president who performs his duties faithfully and conscientiously can have any leisure.”

email : judarwanto@gmail.com

http://bilakupresiden.wordpress.com/

            Copyright 2010. Bila Aku Presiden Network  Information Education Network. All rights reserved

          Tinggalkan Balasan

          Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

          Logo WordPress.com

          You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

          Gambar Twitter

          You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

          Foto Facebook

          You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

          Foto Google+

          You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

          Connecting to %s