Kisah Kehidupan Barack “Barry” Husein Obama Di Indonesia

Kisah Kehidupan Barack “Barry” Husein Obama Di Indonesia

Barack Hussein Obama adalah Presiden Amerika Serikat yang ke-44. Barry nama kecilnya atau Barry Soetoro,  mempunyai kehidupan masa kecil di daerah Menteng Dalam Jakarta. Dari Anak menteng inilah Obama dengan berbagai kelebihannya setapak demi setapak menggapai prestasi luar biasa menjadi seorang yang paling dihormati di muka bumi ini. Pemenang anugerah Penghargaan Perdamaian Nobel ini menganggap bahwa Indonesia adalah negara ke duanya. Hal ini mungkin saja terjadi karena kehidupan masa kecilnya cukup memberi warna dan kesan tersendiri

Kehidupan Barry Selama di Indonesia

Barack Obama lahir di Honolulu, Hawaii, dari pasangan Barack Hussein Obama, Sr., seorang Kenya dari Nyang’oma Kogelo, Distrik Siaya, Kenya, dan Ann Dunham, seorang Amerika Serikat dari Wichita, Kansas. Orangtuanya bertemu ketika bersekolah di Universitas Hawaii, tempat ayahnya belajar dengan status sebagai murid asing. Keduanya berpisah ketika Obama berusia dua tahun dan akhirnya bercerai. Ayah Obama kembali ke Kenya dan melihat anaknya untuk terakhir kalinya sebelum meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas tahun 1982.

Setelah bercerai, Dunham menikahi Lolo Soetoro, dan keluarganya pindah ke Jakarta, Indonesia tahun 1967. Obama kemudian bersekolah di SD Santo Fransiskus Asisi di Tebet selama tiga tahun, lalu pindah ke SD Negeri Menteng 1 (atau SD Besuki) di Menteng hingga ia berusia 10 tahun. Obama diketahui masih dapat memahami dan berbicara bahasa Indonesia secara sederhana.

Barry, tinggal bersama Ann Dunham ibunya yang menikah untuk kedua kalinya dengan pria Indonesia. Seperti diketahui Obama tinggal di perumahan di wilayah Menteng Dalam. Saat itu wilayah tersebut baru saja mendapat saluran listrik. Jalanan di rumah mereka pun belum diaspal, lagi air juga masih harus diambil dari sumur. Barry kecil dikenal teman-temannya saat itu, suka bermain dengan teman-temannya di wilayah itu serta berlari-lari mengenakan sarung, ketika ibunya pergi bekerja.  Djumiati berusia 20an ketika ia mengenal Ann Dunham, satu-satunya orang asing di wilayah itu. Seperti dikatakannya, membantu sesama adalah sifat Ann Dunham.

Saat itu ibunda Obama tengah meneliti bagaimana kehidupan warga pedesaan Jawa. Ibunda Obama juga membantu Bank Rakyat Indonesia dalam membuat rencana kebijakan yang sampai saat ini membantu 31 juta rakyat kecil mendapat pinjaman mikro. Ann adalah seorang ibu yang mendidik anaknya untuk prihatin. Ciri khas Barry. Sewaktu masih kecil, ibunda Obama prihatin sekali dan mau bergaul dengan siapa saja. Barry bergaul dengan siapa saja. Dikatakannya, pengalaman pahit dalam membangun rumah tangga dengan suami pertama dan kedua menjadi bekal bagi sang bunda membesarkan Obama.

Barry hanya tinggal di Menteng Dalam selama tiga tahun (1968-1970).

Teman dekat Obama, Dara Madewa, 48 tahun menuturkan, saat masih menetap di Menteng Dalam, hampir setiap hari Barry kecil selalu bermain di rumah Dara usai sekolah. Selain karena jarak rumah yang berdekatan, karena mereka adalah teman sekelas di SD ASISI. 

“Kalau main ke rumah, enggak mau pulang sampai malam. Kadang makan juga di sini. Sampai harus dijemput ibunya. Dia juga sering sembunyi di kolong tempat tidur kalau dijemput” ujar Dara.

Kesibukan kedua orangtuanya kala itu, membuat Barry lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Dara selepas pulang sekolah. Bahasa Indonesia Barry yang tidak lancar, menurut Dara sering menjadi hambatan percakapan mereka.

Dara bahkan harus bertanya ayahnya cara meminta Barry pulang dalam bahasa Inggris. “Setelah ayah memberitahu, jadi kalau Barry tidak mau pulang saya tinggal bilang ‘Barry, go home’. Maka Barry langsung pulang,” ujar Dara sambil tertawa.

Meski demikian, Dara menganggap Barry merupakan teman yang baik hati dan tidak mudah marah. Pertemanan mereka terputus saat Barry pindah sekolah ke SD Besuki pada pertengahan kelas tiga. “Saya hanya mengenal Barry Soetoro. Maka saya kirim email ke akun milik Obama jelang pemilihan senator. Eh, ternyata dibalas seseorang bernama Obama yang mengaku kalau dirinya yang bernama Barry” cerita Dara. Komunikasi pun sempat terjalin beberapa waktu. Tapi saat Obama jadi Presiden Amerika Serikat, Dara mengaku tidak dapat lagi berkomunikasi lewat email. “Mungkin karena sibuk yah” ujarnya.

Memori kenangan Djoemiati nenek 66 tahun yang tinggal di Menteng Dalam, Jakarta Pusat masih melekat. “Barry. Kalau lari, dia mirip bebek sawah,” ucap Djoemiati tertaea mengenang.

Barry nama panggilan Obama semasa bocah di Jakarta. Usianya baru enam tahun pada 40 tahun lalu saat dia bersama ibunya, Ann Dunham, dan ayah tirinya, Lolo Soetoro, tinggal bertetangga dengan Djoemiati. Coenraad Satjakoesoemah, kini 77 tahun, suami Djoemiati, menjual sebagian tanahnya di Jalan Kiai Haji Ramli 16 di kawasan Menteng Dalam kepada Lolo. Saat itu keluarga Lolo baru pindah dari Papua.

Segera saja Djoemiati terkesan saat berkenalan dengan Barry. Bocah berkulit hitam, berbadan gemuk, dan berambut ikal itu cepat bergaul dengan anak-anak sebayanya di kampung. Kendati belum bisa berbahasa Indonesia, dia mau diajak main apa saja. Petak umpet, gulat, tembak-tembakan, kasti, hingga sepak bola, Barry hayo saja. Barry paling senang berlari. Gaya larinya kerap menjadi bahan tertawaan warga Menteng Dalam. Mereka menyebut dia ”si Bebek Sawah”. ”Dia itu gemuk, jadi kalau lari lucu banget,” ujar Djoemiati kepada Tempo.

Keluarga Soetoro pindah ke Menteng Dalam dengan membawa pelbagai ornamen tradisional rumah Papua. ”Saya pertama kali tahu tombak Irian, ya, waktu main ke rumah Barry,” tutur Eddy Purwantoro, 51 tahun, tetangga sebelah Barry.

Lolo Soetoro juga membawa serta hewan peliharaan, seperti ular, biawak, kura-kura, kera, hingga beberapa jenis burung dari Papua. Hewan-hewan itulah yang kerap dipamerkan Barry kepada teman-temannya. Yunaldi Askiar, 45 tahun, tetangganya yang lain, bercerita, ia pernah marah ketika Barry membuatnya kaget saat menyodorkan kepala kura-kura ke wajahnya. Tapi amarah Yunaldi tak berlangsung lama. Tak sampai sebulan kemudian hewan itu lenyap lantaran rumah Lolo diterjang banjir.

Tak bisa memamerkan hewan peliharaan, Barry tak kehabisan akal. Teman sekelas Yunaldi di kelas I Sekolah Dasar Katolik Fransiskus Strada Asisi (sekarang Fransiskus Asisi), Menteng, itu menunjukkan beberapa koleksi pistol mainan. Johny Askiar, 50 tahun, kakak Yunaldi, pernah diberi sebuah pistol mainan oleh Barry.

Bagi Johny, tetangganya di ujung Jalan Ramli itu terhitung teman baik hati. Selain punya banyak pistol mainan yang mirip pistol asli, bocah kelahiran Hawaii, 4 Agustus 1961, itu punya spidol. ”Waktu itu hanya anak orang kaya yang memiliki spidol,” ujar Johny mengenang. Johny kini membuka usaha bengkel sepeda motor di Ciganjur, Jakarta Selatan.

Sepulang sekolah, Johny dan Yunaldi biasa mengundang Barry ke rumah mereka. Di rumah nomor 18 itu mereka bermain gulat atau petak umpet. ”Kalau dijaili, Barry suka berseru, cuang! Cuang!” Johny menirukan aksen cadel Barry saat menyebut kata curang.

Johny mengaku ia memang kerap menggoda Obama. Misalnya, menjitak kepala atau memain-mainkan rambut keriting Barry. ”Habis, gemas dengan rambutnya itu,” ujarnya. ”Lucunya lagi, kalau kehujanan, air tetap ngembeng di kepalanya.”

Keakraban Barry dan Johny-Yunaldi menular kepada orang tua mereka. Ann Dunham, yang masih menggendong Maya Cassandra Soetoro, adik Obama, selalu menjahitkan baju-bajunya kepada Eti Hayati, kakak Johny. Keluarga Askiar, yang berasal dari Padang, kerap mengundang makan keluarga Lolo. Sepulang sekolah, Barry bahkan biasa makan di rumah Johny. Makanan favorit Obama: rendang.

Dalam soal makan, terutama jika ada rendang atau roti cokelat, Barry amat lahap. Djoemiati mengisahkan, suatu hari, ketika Obama main ke tetangga, dia hampir menghabiskan kue tar yang hendak disuguhkan kepada tamu keluarga itu. Lantaran berang, pembantu rumah itu mengejar-ngejar Barry. ”Si Bebek Sawah” lari terbirit-birit sebelum bersembunyi di kolong tempat tidur.

Obama kecil adalah Obama yang punya kehidupan berwarna. Ia cerdas, mudah bergaul, melindungi teman-temannya, berusaha keras belajar bahasa Indonesia, senang menyanyi lagu perjuangan, menimba sendiri air sumur di rumahnya, dan suka mengenakan kain sarung pemberian ayah tirinya.

Eddy Purwantoro sering bermain bersama Barry di masjid. Juga, di saat bulan puasa keduanya biasa main-main di masjid. ”Barry sering pakai sarung untuk menutup mukanya. Kami bermain ninja-ninjaan,” Eddy menjelaskan. Tapi Eddy tak pernah melihat Barry menjalankan salat. Yang ia tahu, Barry penganut Nasrani. Yang memeluk Islam adalah ayah tirinya, Pak Lolo.

Kisah di Sekolah

Obama saat kehidupannya di Indonesia sering dikaitkan dengan pengalaman sekolahnya. Saat itu Barry sekolah di SD Katolik Asisi tahun 1968-1970 dan SDN Menteng 01 Jakarta Pusat tahun 1970-1974. Para guru sekolah Barry di Sekolah Dasar Fransiskus Asisi bernostalgia tentang masa kecil orang nomor satu di Amerika Serikat itu.

Meski hanya tiga tahun (1968-1970) belajar di sekolah itu, Obama kecil meninggalkan banyak kenangan bagi para pengajar. 

Tahun 1968 masuk SD Asisi sebagai siswa angkatan kedua. Sekolah yang terletak di Jalan KH. Ramli, Menteng Dalam, Tebet Jakarta itu berdiri tahun 1967.

Dalam buku besar siswa, nama Obama tertulis sebagai Barry Soetoro dan beragama Islam. Kewarganegaraan Obama tertulis sebagai warga negara Indonesia. Sayangnya buku yang berisi daftar nilai Obama tidak ada.

Selama tiga tahun bersekolah di Asisi, Obama paling banyak menempati ruang yang sekarang menjadi ruang kelas 6B. “Kondisi ruang kelas masih sama,” kata Yustina Amirah kepala sekolah SD Fransiskus Asisi (SD Asisi) saat ditemui di kantornya, Rabu.

Namun, bangku-bangku sekolah sudah diganti. Hanya ada satu bangku jaman Obama sekolah yang masih dipertahankan. Menurut salah seorang siswa kelas 6B, semua siswa akan menempati bangku itu, karena setiap minggu tempat duduk siswa berubah.

Dalam ruang kelas terdapat foto Obama bersama istrinya Michelle. Foto itu merupakan hadiah dari Kedutaan Besar AS yang diberikan saat Obama dilantik menjadi presiden. Foto Obama (tanpa istrinya) juga dipajang di ruang kepala sekolah.

Awalnya jumlah guru di Asisi hanya dua orang dengan enam ruang kelas. Sekarang jumlah guru sebanyak 38 orang dengan 18 ruang kelas. Jumlah murid Asisi sekira 500 orang.
SD Asisi menjadi terkenal karena Obama pernah bersekolah disana. Hampir setiap hari wartawan datang ke sekolah.

Saat tahun 1968 hingga 1970 Obama bersekolah di sekolah katolik Asisi. Salah satu guru yang masih mengingat sosok Obama kecil adalah Israela Pareira, yang mengajar saat Obama duduk di kelas satu. Israela mengenang Barrack Obama sebagai anak yang cerdas dan telah menunjukkan bakat kepemimpinannya saat dia masih kecil. “Dia lebih menonjol dari teman lainnya. Tidak hanya dalam mata pelajaran, juga dalam hal memimpin. Ia selalu berinisiatif untuk memimpin teman-temannnya berbaris saat hendak masuk kelas,” ujar Israela. Satu hal yang tidak dilupakan Israela adalah keinginan Obama kecil kala itu yang ingin menjadi presiden. “Aku ingin menjadi presiden” kenang sang guru menirukan ucapan bekas muridnya. Apa cita-cita Obama kecil? Kawan-kawan Barry di sekolah Asisi ataupun sekolah Besuki berusaha memeras memori mereka, tapi tak berhasil mengail cerita ini. Hanya Bu Guru Israella yang segera teringat pelajaran mengarang di kelas III. Dengan tema ”Cita-citaku”, Barack Obama pernah menulis: ”Cita-citaku: presiden”.

Israela pun mengatakan berkeinginan mencium pipi Obama jika datang ke Indonesia. “Saya juga akan memanggilnya sesuai namanya (Barry, red) ketika ia masih menjadi anak didik saya yang dulu” ujar Israela. Hal yang sama juga disampaikan guru kelas tiga Obama. Menurutnya, Obama kecil memiliki jiwa kepemimpinan dan kemampuan kerjasama yang baik.

Kata-kata curang, jangan ganggu, dan jangan begitu merupakan ungkapan bahasa Indonesia yang paling sering diucapkan Obama kecil. Israella Pareira Darmawan, 64 tahun, guru Barry sewaktu kelas I di sekolah Asisi, menyebutkan kosakata Indonesia Barry amat terbatas di bulan-bulan awal masuk sekolah. Baru pada bulan keempat dan kelima, Obama mulai bisa berbahasa Indonesia meski terbata-bata.

Nilai bahasa Indonesia Barry cuma 5. Tapi ia amat pandai matematika. Secara keseluruhan Obama masuk sepuluh besar. ”Dia anak cerdas, sabar, mudah bergaul,” kata Israella.

Ibu guru itu masih ingat, Obama suka membela teman-temannya yang bertubuh kecil. Ia kerap memeluk atau memegang tangan teman mainnya yang jatuh dan menangis. Bertubuh paling jangkung, Barry senang memimpin barisan. ”Kalau guru masih belum masuk kelas, dia akan melarang siapa pun masuk kelas lebih dulu,” ucap Israella.

Guru kelas 2 Obama, Cicilia Sugini menambahkan, kesulitan Obama hanya belum fasih berbahasa Indonesia. Kerapkali, saat mengajukan dia mengajukan pertanyaan, Barry selalu mengacungkan jarinya. “Entah bisa menjawab atau tidak. Yang pasti, ide di kepalanya selalu ada. Tapi, dia kesulitan mengutarakan pendapatnya karena kendala bahasa. Jadi, kesannya seperti dia tidak bisa menjawab pertanyaan,” kenangnya. Kendati demikian, kata Cicilia, kendala tersebut perlahan teratasi. Obama mulai lancar berbahasa Indonesia pada tahun kedua di sekolah itu

Di Asisi, Obama bersekolah dari 1968 hingga 1970 awal. Selanjutnya ia pindah ke Sekolah Dasar 01 Besuki, Menteng (sekarang Sekolah Dasar Negeri Menteng 01, Jalan Besuki) saat kelas III. Barry bersekolah di Besuki cuma sampai akhir kelas IV. Dia kemudian melanjutkan pendidikan dasarnya di Hawaii, Amerika Serikat.

Di SD Menteng 01 itu, Barack Obama, memang tercatat pernah menuntut ilmu. Obama terdaftar dengan nama Barry Soetoro dan menuntut ilmu di sekolah tersebut tidak sampai tamat karena meninggalkan SD itu pada 1971 atau sebelum kelas enam.

SD tersebut didirikan oleh Belanda pada 1934 dan diserahterimakan kepada pemerintah Republik Indonesia pada 1961. Sejak 1961 itulah SDN Menteng 01 selalu memberikan materi pelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum.

Efendi, yang mengajar di SD Menteng 1 selama 29 tahun, mengingat Obama sebagai seorang “anak gemuk, berambut keriting dan selalu ingin tahu”.
Obama pernah menjadi juara makan kerupuk. Menurut Effendi, wali kelas Obama di kelas 3 SD Negeri 01 Menteng, Jakarta Pusat, lomba makan krupuk itu digelar pesta ulang tahun pada 2 Juni 1971. “Dia juara satu saat lomba makan kerupuk,” kata Effendi. Effendi mengisahkan, Obama sangat menyukai kerupuk. Lantaran itu senator dari Illinios itu bersemangat mengikuti kompetisi memakan kerupuk. “Obama senang menerima hadiah karena menang lomba,” katanya.

Pertama masuk sekolah, kata dia, Obama sudah bisa berbicara bahasa Indonesia. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Barry. Itu karena ia sempat sekolah selama dua tahun di SD Kristen Asisi, Tebet, Jakarta Selatan. “Ia tidak terlalu menonjol tapi cepat beradaptasi,” ujarnya.

Letnan Kolonel Angkatan Udara Danarsono, teman sekolah Obama yang lain, punya kisah lain lagi. Obama tidak terlalu menonjol dalam belajar. “Dia biasa saja, tapi sangat ramah. Bakat memimpin juga belum kelihatan,” ujarnya. Obama hanya terlihat beda secara fisik. “Dia lebih besar, lebih tinggi, dan lebih hitam,” katanya.

Kawan-kawan di sekolah dasar Besuki ini pada awal Maret lalu membentuk Obama Fans Club. Alumni sekolah tahun 1973 itu berkumpul di Sekolah Dasar Negeri Menteng 01 dan memberikan dukungan kepada sang kawan untuk terus melaju dalam pemilihan Presiden Amerika. Belakangan nama Obama Fans Club itu berganti menjadi Yayasan Besuki 73. ”Nama Fans Club kurang tepat. Barry kan teman kami,” kata Sonni Gondokusumo, pengusaha 47 tahun.

Sandra Sambuaga-Mongie, 47 tahun, mengenang Barry sebagai kawan yang mudah berteman dan tak gampang marah. Sementara itu, Widiyanto, karyawan Prima Cable Indo, tak pernah lupa pada tangan kidal Barry. Obama sering menunjukkan gambar-gambar tokoh superhero, seperti Batman dan Spiderman, hasil coretan tangan kidalnya. ”Ia juga ikut pramuka dan karate,” ujar Widiyanto.

Fotografer Rully Dasaad, 48 tahun, mengenang Obama sebagai kawan yang sama-sama hiperaktif. Barry dan Rully dikenal tak bisa diam dan kerap menebarkan bau apak keringat kepada kawan-kawan mereka setelah bermain kasti. ”Saya ingat waktu ikut pramuka, Barry pernah diikat oleh kakak kelas karena tak bisa diam,” ujarnya.

Rully juga merekam cerita tiga bulan pertama Obama bersekolah di sekolah dasar Besuki. Barry tak pernah mau menyanyi. Tapi, setelah itu dia senang menyanyikan lagu-lagu perjuangan Indonesia. Salah satu lagu kesukaannya: Maju Tak Gentar.

Meski pintar bermain sepak bola, tetapi Barry tidak egois. Bentuk kerjasama tim dalam permainan itu ditunjukkan dengan baik. “Banyak kemampuan yang dimilikinya. Si kecil yang berkulit hitam itu memiliki karakter pemimpin dengan sosok yang meyakinkan bagi orang lain,” cerita Fermina.

Memori masa kecilnya sampai sekarang terus melekat dalam otaknya. Dalam kuliah di Universitas Indonesia saat kunjungan singkat ke Indonesia telah mengungkapkan : saya masih teringat suara orang jualan sate dan bakso. Sate ….. bakso …. dia meneriakkan kata-kata itu dengan fasih seperti yang pernah didengarnya saat masa kecil.  Bahkan sampai sekarangpun Obama masih menyukai makanan kegemarannya nasi goreng dan bakso. Dalam pidatonya tersebut obama mengatakan bahwa ia masih teringat masa kecilnya saat tinggal di rumah kecil di menteng Dalam dengan sebuah pohoon mangga besar di depan rmahnya. Dia juga bercerita bahwa saat sore hari berlarian di pemantang sawah, menangkap capung dan bermain layang-layang.

Media-media Amerika berusaha keras membongkar sisi spiritual Obama ini untuk menyerang saat Obama menjadi calon presiden. Bahkan sekolah Obama dipelesetkan: dari Asisi menjadi Asisyiah. Padahal jauh berbeda. Asisi adalah sekolah Katolik.

Wakil Kepala Sekolah SDN Menteng 01, Jakarta Pusat, Hardi Priyono, membantah dengan keras tuduhan bahwa pihaknya telah memberikan pelajaran Islam radikal menyusul santernya berita tentang kandidat Presiden Amerika Serikat, Barack Obama yang pernah menempuh pendidikan di sekolah itu.

“Tidak benar sama sekali dan tuduhan itu tidak berdasar karena yang kami ajarkan di sini sesuai dengan kurikulum yang telah digariskan dan berlaku di SD-SD seluruh Tanah Air,” kata Hardi di Jakarta, Rabu. Pria yang bertugas di sekolah tersebut sejak 1999 itu mengatakan, SDN Menteng 01 yang terletak di Jl Besuki nomor 4 Jakarta Pusat itu adalah sekolah umum yang terbuka bagi semua siswa beragama apa saja.

SD yang berdiri di kawasan seluas 2.300 m2 itu sejak awal berdiri hingga kini menerima siswa dengan berbagai latar belakang agama. “Tahun ini siswa kami sebanyak 474, mereka ada yang beragama Islam, Kristen, dan juga Hindu. Semua kami terima di sini,” katanya. Menurut dia, siswanya memang 90 persen beragama Islam tetapi itu lebih karena penduduk Indonesia sebagian besar merupakan penganut Islam.

Meski begitu, pihaknya tetap mengakomodir siswa yang beragama selain Islam untuk mendapatkan pelajaran agama secara proporsional dan sama bobotnya dengan siswa-siswa muslim. “Kalau sedang ada pelajaran agama ya siswa diajar oleh guru sesuai dengan agamanya di ruangan yang terpisah,” katanya. Ketika Barry bersekolah di SD tempatnya mengajar, Hardi belum bertugas di sana, tetapi Hardi dapat memastikan Barry tidak mendapat pendidikan Islam radikal seperti yang banyak dituduhkan berbagai pihak selama ini. “Dalam sejarahnya, karena kami sekolah umum ya yang diajarkan sesuai dengan kurikulum,” katanya.

Sebagai seorang siswa di Jakarta, Barack Obama menghadiri sesi doa Muslim dengan teman-teman sekelasnya menentang keinginan dari ibunya.

Mantan guru kelas tiga Presiden AS tersebut mengatakan bahwa Obama – yang dulunya dikenal sebagai “Barry” ketika ia bersekolah di SD Menteng 1 Jakarta – mempelajari Al-Qur’an dan datang ke kelas-kelas tentang Islam, meskipun ada larangan dari ibunya, Ann Dunham, yang seorang Katolik.

Ingatan guru tersebut akan menambahkan spekulasi tentang hubungan Obama dengan Islam sepanjang kunjunganya yang begitu dinantikan ke Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia, sebagai bagian dari tur sepuluh harinya di Asia.

Nama tengahnya, Hussein, dan fakta bahwa ayah tirinya adalah seorang Muslim, telah tergabung untuk mengabadikan rumor tentang sandaran agama Obama. Jumlah penduduk Amerika yang berpikir bahwa ia adalah seorang Muslim telah bertambah sejak pidato pertamanya. Sekolah tersebut memilki murid-murid campuran internasional, termasuk Kristen, Hindu, Budha dan Muslim.

Obama menghadiri kelas-kelas tentang Islam sementara murid-murid Kristen menghadiri kelas-kelas tentang Kristianitas, kata Effendi. Barry, ia mengatakan, sendirian di antara para murid di dalam kelas tersebut yang ia sendiri bersikeras untuk hadir dalam kedua kelas tersebut. “Ibunya tidak suka ia mempelajari Islam. Walaupun ayahnya adalah seorang Muslim. Terkadang ibunya datang ke sekolah; ia marah dengan guru agama dan mengatakan ‘Mengapa Anda mengajarinya Al-Qur’an?’,” kata Effendi guru SD Menteng 01 itu. “Namun ia tetap datang ke kelas-kelas tersebut karena ia dulunya tertarik tentang Islam. Ia juga akan bergabung dengan murid lainnya untuk doa-doa Muslim.”

Pertanyaan-pertanyaan atas agama Obama semakin gencar, sebagian, oleh komentar-komentar tentang akar Muslimnya yang dibuat oleh Hillary Clinton selama kampanye kepemimpinan partai Demokrat.

Media konservatif Amerika mengambil spekulasi lebih jauh dengan mengklaim bahwa Obama menghadiri sebuah madrasah – Sekolah Islami – ketika ia masih seorang anak-anak. Mantan teman sekelas Obama, bagaimanapun juga, telah menyangkal klaim tersebut sebagai tidak masuk akal.

Obama kembali ke Honolulu untuk tinggal bersama kakek dan neneknya dan belajar di Sekolah Punahou sejak kelas lima tahun 1971 hingga lulus SMA pada 1979. Ibu Obama kembali ke Hawaii tahun 1972 selama beberapa tahun dan kemudian ke Indonesia untuk menyelesaikan kerja lapangan untuk disertasi doktoral. Ia meninggal karena kanker rahim tahun 1995. Sebagai seorang dewasa, Obama mengakui bahwa ketika SMA ia menggunakan mariyuana, kokain, dan alkohol, yang ia jelaskan pada Forum Sipil Presiden 2008 sebagai kesalahan moralnya yang terbesar. Setelah SMA, Obama pindah ke Los Angeles lalu ia belajar di Perguruan Tinggi Occidental selama dua tahun. Ia kemudian dipindahkan ke Universitas Columbia di New York City, dan kemudian ia lulus dalam bidang pengetahuan politik dengan kelebihan pada hubungan internasional. Obama lulus dengan B.A. dari Columbia tahun 1983, kemudian bekerja selama setahun di Business International Corporation dan kemudian di New York Public Interest Research Group.

Setelah empat tahun di New York City, Obama pindah ke Chicago, lalu ia menjabat sebagai direktur Developing Communities Project (DCP), sebuah perkumpulan masyarakat berbasis gereja yang sebenarnya terdiri dari delapan paroki Katolik di South Side, Chicago, dan bekerja di sana selama tiga tahun mulai Juni 1985 hingga Mei 1988.

Sumber : wikipedia dan berbagai sumber lainnya
 

Supported By :

BILA AKU PRESIDEN, Yudhasmara Publisher

“Presiden adalah cita-citaku, Presiden harus menjadi amanah dan tanggung jawab bukan sebagai tujuan pribadi, Semua Anak Indonesia bisa jadi presiden”

“No president who performs his duties faithfully and conscientiously can have any leisure.”

email : judarwanto@gmail.com

http://bilakupresiden.wordpress.com/

            Copyright 2010. Bila Aku Presiden Network  Information Education Network. All rights reserved

          Tinggalkan Balasan

          Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

          Logo WordPress.com

          You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

          Gambar Twitter

          You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

          Foto Facebook

          You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

          Foto Google+

          You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

          Connecting to %s